budakjrc

Minggu, 17 Oktober 2010

GIZI, MASYARAKAT BERKUALITAS DAN PENCAPAIAN TUJUAN MDGs

ICRP - KOLOM (http://www.icrp-online.org)
GIZI, MASYARAKAT BERKUALITAS DAN PENCAPAIAN TUJUAN MDGs - 27 Agustus 2007 - 10:26 (Diposting oleh: em)
Siti Musdah Mulia
Pendahuluan
Pertama-tama saya mengapresiasi panitia Anugerah Saparinah Sadli 2007 karena mengambil tema sangat strategis: Gizi, Masyarakat Berkualitas dan Pencapaian Tujuan MDGs. Mengapa tema ini penting? Paling tidak ada empat alasan.
Pertama, pemerintah pada tahun 2000 telah menyepakati Millenium Development Goals yang antara lain menegaskan perlunya negara memenuhi hak kesehatan warga. Sebab, salah satu indikasi masyarakat berkualitas terlihat dari tingkat kesehatannya. Bicara soal kesehatan, tidak bisa tidak harus dimulai dari perbaikan gizi masyarakat, khususnya pada anak balita. Karena itu, pencapaian MDGs hanya dimungkinkan manakala gizi masyarakat mengalami peningkatan kualitas.
Kedua, problem gizi buruk masyarakat adalah akumulasi dari berbagai persoalan sosial di masyarakat, seperti malnutrisi, korupsi, kemiskinan, pengangguran, pengalokasian dana yang tidak responsif gender, dan orientasi kebijakan pembangunan yang monokultur serta penataan konsumsi yang berorientasi pasar.
Ketiga, masalah gizi buruk masyarakat merupakan gambaran nyata dari pengabaian terhadap hak-hak perempuan. Masyarakat masih kuat dipengaruhi budaya patriarki dan nilai-nilai bias gender sehingga pengelolaan gizi anak sepenuhnya dibebankan pada ibu. Sebagian besar mereka tidak mengerti masalah gizi karena pemiskinan dan pembodohan, serta akibat ketimpangan struktural.
Keempat, di tengah-tengah berita Pilkada yang merebak di berbagai wilayah muncul fenomena yang paradoks. Para calon gubernur, bupati, walikota tanpa malu menyebutkan jumlah harta kekayaan mereka yang melimpah, sementara di depan mata ditayangkan gambar anak-anak penderita busung lapar. Hal ini menunjukkan betapa kesenjangan dan ketidakadilan telah terjadi di masyarakat. Situasi ini harus segera diakhiri agar tidak meletupkan keresahan sosial yang mendalam, dan boleh jadi membawa kepada revolusi sosial yang tidak diinginkan.
Jaringan Penanggulangan Busung Lapar
Persoalan rendahnya kualitas gizi masyarakat kembali mencuat di negara ini, setelah media massa nasional kembali membongkarnya dipertengahan tahun 2005 lalu. Sejak saat itu, kasus busung lapar menjadi sorotan publik, terutama busung lapar di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mempunyai ranking tinggi dibandingkan daerah-daerah lainnya. Pemberitaan yang gencar tentang kasus tersebut, memaksa pemerintah turun tangan dan menetapkan kasus busung lapar sebagai kejadian luar biasa (KLB). Akan tetapi, berita mengenai tragedi busung lapar ini kembali menjadi tragedi tersembunyi di balik peristiwa-peristiwa politik yang hingar bingar di pusat dan daerah. Berita ini kalah seksi dari berita-berita Pilkada yang menelan biaya mahal dan terjadi di berbagai wilayah republik ini.
Tahun 2005 sejumlah NGO yang peduli pada upaya-upaya penanggulangan busung lapar di tanah air secara spontan menggagas suatu jaringan yang disebut Jaringan Penanggulangan Busung Lapar. Jaringan ini muncul sebagai respon konkret terhadap meningkatnya kasus busung lapar atau gizi buruk, bahkan telah menjadi ancaman serius terhadap masa depan negeri ini. Data Departemen Kesehatan pada tahun 2004 menunjukkan, sekitar 5 juta anak balita terancam kekurangan gizi, 3,6 juta anak balita menderita kurang gizi dan 1,5 juta anak balita menderita gizi buruk. Data tersebut sejatinya hanyalah fenomena “Gunung Es.” Artinya, yang terjadi sesungguhnya jauh lebih parah dan lebih memprihatinkan.
Penderita gizi dapat dipolakan kepada dua kelompok: Penderita gizi kurang dan penderita gizi buruk yang lebih dikenal dengan sebutan busung lapar. Penderita gizi buruk mudah dikenali karena terlihat secara kasat mata dari kondisi tubuh anak: sakit, kurus, perut buncit atau badan membengkak, dan lemah. Sebaliknya, penderita gizi kurang tidak mudah diketahui atau dikenali oleh masyarakat umum. Akibatnya, meskipun jumlahnya lebih banyak, namun mereka kurang mendapatkan perhatian, baik dari kalangan pemerintah maupun masyarkat. Penderita gizi kurang sangat berpotensi menjadi penderita gizi buruk atau busung lapar, apabila tidak dilakukan upaya-upaya pemulihan dan pengobatan secara cepat dan tepat.
Jika problem gizi kurang dan gizi buruk tidak segera ditangani secara serius, bangsa ini akan kehilangan satu generasi atau bahkan lebih. Mengapa? Sebab, gizi buruk, terutama pada anak-anak usia balita, berdampak pada berkurangnya sel-sel otak. Akibatnya, meskipun penderita gizi buruk masih dapat bertahan hidup dan tumbuh menjadi dewasa, mereka tetap akan menderita kelemahan mental, terhambat pertumbuhan fisiknya dan rentan terhadap penyakit. Mereka dengan demikian akan menjadi apa yang disebut dengan “goblok permanen” dan kondisi ini tentu amat memprihatinkan. Sementara itu, keluarga dan masyarakat tidak dapat berbuat banyak.
Dengan ungkapan lain, anak-anak penderita kurang gizi yang menurun status gizinya menjadi penderita gizi buruk atau busung lapar, tidak akan bisa dipulihkan kembali menjadi anak yang tumbuh normal. Mereka akan menghadapi dua kemungkinan kondisi yang sama buruknya, yaitu: meninggal dunia atau bertahan hidup dalam kondisi lemah (retardasi) mental. Sebab gizi buruk atau busung lapar bersifat irreversible. Tak terbayangkan apa yang terjadi dengan masa depan negeri ini apabila 5 juta anak yang terancam kekurangan gizi itu tak terselamatkan dan jatuh dalam kondisi busung lapar. Indonesia akan menghadapi masalah hilangnya sebuah generasi atau bahkan akan kehilangan masa depannya sendiri.
Menghadapi persoalan rendahnya kualitas gizi masyarakat, kita tidak perlu mencari siapa yang harus bertanggungjawab atas masalah ini. Sebab, sikap demikian hanya mengulur waktu dan sia-sia, padahal kondisi yang memprihatinkan akibat busung lapar tidak bisa ditunda penanganannya. Masalah busung lapar harus menjadi perhatian bersama semua pihak baik masyarakat secara umum, pemerintah, tokoh-tokoh agama, LSM, profesional dan sebagainya. Pihak-pihak ini dalam kapasitasnya masing-masing harus mampu memberi peran yang signifikan dalam memerangi masalah busung lapar yang demikian nyata di hadapan kita.
Busung Lapar Merupakan Tragedi Nasional
Kelompok agamawan yang diorganisir oleh ICRP (Indonesian Conference on Religion for Peace) memandang masalah busung lapar sebagai masalah semua umat beragama. Sebab, bukankah musuh agama yang paling nyata adalah kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan kelaparan? Mereka menyatakan bahwa: meskipun kami berbeda dalam hal keyakinan, namun kami mempunyai kesamaan dalam hal kemanusiaan. Bagi kami busung lapar adalah tragedi kemanusiaan yang tidak lagi dilihat sebagai problem internal satu pemeluk agama saja. Busung lapar di negara Indonesia yang kaya-raya ini adalah tragedi yang memalukan. Bagi kelompok agamawan tragedi busung lapar ini adalah tamparan keras. Kami malu karena umat kami tidak bisa makan, miskin, dan tidak mendapat gizi yang baik. Kelompok agamawan mengakui bahwa pertanggungjawaban atas kesejahteraan umat adalah kewajiban yang juga harus diperjuangkan oleh kelompok-kelompok agama.
Tragedi busung lapar merupakan tragedi nasional. Karena itu, semua umat beragama, bahkan semua pihak hendaknya memberi prioritas khusus untuk segera menangani. Selanjutnya, kepada tokoh agama dan kelompok-kelompok agama dihimbau untuk bergandeng tangan mengatasi masalah busung lapar ini. Masalah busung lapar bukan lagi masalah umat dari kelompok tertentu saja, tetapi menjadi masalah bagi seluruh umat. Untuk itu, diserukan kepada kelompok agama agar melepaskan identitas-identitas keagamaan dalam menangani masalah busung lapar karena masalah umat adalah masalah kemanusiaan yang tidak terkait dengan identitas-identitas keagamaan.
Selain itu, kepada masyarakat dihimbau untuk meningkatkan rasa solidaritas bersama dan peduli dalam menangani masalah busung lapar. Dihimbau kepada masyarakat yang lebih mampu untuk mengulurkan tangannya dalam membantu saudara-saudara mereka yang tidak bisa mendapatkan gizi secara baik. Kemudian, kepada pemerintah diharapkan untuk mengeluarkan kebijakan strategis dan mendasar dalam menangani masalah busung lapar. Masalah busung lapar adalah representasi dari gagalnya pemerintah dalam menangani problem-problem masyarakat, khususnya kemiskinan. Jelas bahwa busung lapar pada umumnya terjadi akibat kemiskinan yang melanda masyarakat dan belum mendapat penyelesaian.
Kasus anak balita penderita gizi buruk atau busung lapar dan kematian dini akibat busung lapar yang banyak diberitakan di media massa, sebenarnya bukanlah kasus baru. Busung lapar telah mengancam jutaan anak-anak Indonesia di berbagai provinsi sejak tahun 1998. Jumlah dan keluasan anak-anak penderita gizi buruk menegaskan bahwa gizi buruk atau busung lapar adalah bencana nasional yang dampaknya tak kalah seriusnya dengan bencana-bencana nasional lainnya. Ironisnya, berbeda dengan penanganan bencana bususng lapar, berbagai bencana yang telah dinyatakan sebagai bencana nasional mendapat perhatian dan penanganan serius, baik dari pemerintah maupun seluruh komponen masyarakat. Pada setiap bencana nasional, berbagai sumberdaya, pengetahuan dan beragam bentuk solidaritas masyarakat dikerahkan untuk membantu para korban dan mencegah meluasnya jumlah korban. Ini terjadi karena apa yang disebut sebagai bencana nasional seringkali dikaitkan dengan jumlah korban yang bersifat massal dan dapat dilihat secara kasat mata. Sebaliknya, menghadapi bancana busung lapar, pemerintah dan masyarakat kurang memberikan perhatian.
Busung Lapar Cerminan Pengabaian Hak-Hak Perempuan
Masalah gizi kurang dan gizi buruk bukan hanya saja menjadi persoalan medis semata, tetapi juga merupakan masalah sosial yang krusial. Problem kemiskinan yang terus menerus mendera masyarakat berkorelasi positif dengan meningkatnya jumlah anak-anak penderita gizi. Sementara itu, tingkat solidaritas masyarakat terhadap masalah ini juga belum mendapat perhatian yang luas dan serius. Persoalan ini semakin memprihatinkan ketika pemerintah sebagai penanggungjawab atas kesejahteraan warganya tidak optimal dalam menangani masalah kesehatan dan pemenuhan gizi masyarakat, padahal tingkat kualitas kesehatan masyarakat merupakan indikator nyata dari kemajuan suatu negara. Selain itu, masalah gizi anak ini juga erat kaitannya dengan persoalan-persoalan riil di masyarakat, seperti perkawinan anak-anak (child marriage), perkawinan kontrak, perempuan buruh migran, pembantu rumah tangga, dan pengabaian hak-hak asasi perempuan.
Problem Ketidakadilan Gender
Anak dan perempuan merupakan kelompok rentan di masyarakat. Disebut rentan karena keduanya merupakan kelompok yang paling banyak menanggung resiko kematian karena alasan kesehatan. Anak-anak dan perempuan hamil atau melahirkan adalah kelompok masyarakat yang rentan terhadap penyakit dan kematian. Akibat kurang terjangkaunya pelayanan kesehatan ke seluruh desa dan kelurahan mempengaruhi besarnya angka kematian bayi dan angka kematian ibu melahirkan (AKI). Tingginya angka kematian ibu hamil dan melahirkan menegaskan adanya problem ketidakadilan gender dalam masyarakat yang berdampak pada masalah busung lapar. Dinas kesehatan di beberapa tempat menyatakan bahwa berdasarkan data anak-anak penderita busung lapar diketahui bahwa sebagian dari anak-anak penderita busung lapar adalah anak-anak dengan berat badan lahir (BBL) rendah. Anak-anak yang rendah berat badannya saat lahir mengindikasikan adanya problem asupan makanan dan gizi pada ibu-ibu hamil. Ini berarti bahwa hak atas kesehatan reproduksi bagi para ibu belum mendapatkan perlindungan dan pemenuhan sebagaimana mestinya.
Problem Rendahnya Kualitas Pendidikan Perempuan
Data-data yang ada menunjukkan secara jelas bahwa kondisi pendidikan orang tua anak balita penderita gizi kurang dan gizi buruk (busung lapar) sangat rendah. Mayoritas orang tua mereka berpendidikan SD ke bawah. Sementara lainnya tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Rendahnya tingkat pendidikan warga berdampak pada minimnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang masalah pangan, gizi dan kesehatan. Kondisi seperti ini berdampak pada sikap dan perilaku masyarakat, khususnya kelompok miskin, di dalam konsumsi pangan yang tidak memenuhi kecukupan gizi. Minimnya pendidikan juga merefleksikan minimnya pemenuhan hak atas informasi. Dengan tidak terpenuhinya hak atas informasi, bisa dimengerti kalau masalah gizi dan kesehatan menjadi masalah krusial bagi masyarakat yang tidak terdidik.
Problem Minimnya Akses Perempuan Terhadap Pelayanan Kesehatan dan Air Bersih
Kemiskinan yang ditandai oleh kualitas pendidikan yang rendah, kian diperburuk oleh minimnya pelayanan kesehatan dan sumber air bersih. Di beberapa wilayah terdata bahwa kelompok perempuan Demikian pula, penguasaan atas sumberdaya lahan, khususnya lahan pertanian sangat minim. Mayoritas keluarga dari anak-anak penderita gizi buruk dan busung lapar tidak memiliki lahan pertanian, baik lahan sawah maupun lahan kering. Ketiadaan lahan membuat mereka bergantung pada pasar dalam hal pengadaan pangan. Sementara penghasilan mereka tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin meningkat akibat kenaikan BBM. Kondisi ini melahirkan beragam masalah dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Kelompok perempuan tersingkirkan dari pengelolaan pertanian sejak revolusi hijau diterapkan secara luas dengan padi sebagai komoditi andalan, makanan pokok bergeser ke beras. Kini dengan naiknya harga BBM, harga beras semakin mahal, sementara mayoritas lahan pertanian adalah lahan kering, sehingga warga bergantung pada pasar untuk mendapatkan beras.
Minimnya ketersediaan air membuat perempuan harus berjalan berkilo-kilo meter dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan air bersih. Sementara pada saat yang sama, perempuan bertanggung jawab dalam mengurus anak-anak, menyediakan makan bagi keluarga, mengurus ternak, dan lain-lain tanggung jawab pekerjaan dalam rumah tangga. Ketiadaan air juga meningkatkan masalah serius dalam hal sanitasi dan kesehatan.
Solusi dan Rekomendasi
Agar masalah gizi kurang dan gizi buruk (busung lapar) tidak lagi menjadi masalah keseharian masyarakat di berbagai wilayah Indonesia, solusi dan sekaligus rekomendasi berikut patut dipertimbangkan:
Pertama, untuk Pemerintah Pusat.
Segera membangun sistem penanggulangan rawan pangan, gizi kurang dan gizi buruk atau busung lapar yang berorientasi pada pendekatan yang mengatasi akar masalah. Busung lapar bukanlah bencana alam yang bisa diatasi hanya dengan pendekatan emergency jangka pendek tanpa disertai perubahan-perubahan kebijakan yang berorientasi pada kebutuhan riil mayoritas rakyat. Pemerintah sudah semestinya menjalankan kewajiban yang diembannya untuk merumuskan dan menerapkan kebijakan strategis di tingkat nasional yang mengarah ke pengurangan tingkat kemiskinan secara signifikan dan berkelanjutan, pengembangan diversifikasi ekonomi melalui pengembangan industri kecil dan menengah, pemanfaatan dan pengembangan potensi dan sumberdaya lokal untuk mengurangi ketergantungan pada utang luar negeri dalam anggaran pemerintah, dan penghentian praktek korupsi di segala lini dan kejahatan sistematis lainnya.
Selain itu, sangat perlu meningkatkan orientasi pembangunan pada peningkatan akses masyarakat atas pelayanan dasar dan sumberdaya ekonomi, dengan menjalankan sepenuhnya kebijakan untuk mengalokasikan minimal 20% anggaran pembangunan untuk pendidikan dan 15% anggaran pembangunan untuk kesehatan. Perbaikan dalam sistem penganggaran (budgeting) dengan memperhatikan partisipasi kelompok-kelompok marjinal, khususnya kelompok miskin dan kelompok perempuan. Sistem budgetting juga memperhatikan ketepatan waktu perencanaan dan realisasi alokasi anggaran. Mengembangkan potensi lokal untuk meningkatkan ketersediaan dan akses masyarakat atas pangan, dengan kebijakan pangan yang secara strategis mengembangkan potensi lahan kering dan konservasi lahan kritis. Melakukan sosialisasi berbagai kebijakan yang terkait dengan penghapusan ketidakadilan gender pada seluruh jajaran pemerintahan dan berbagai kelompok strategis di daerah.
Kedua, untuk Pemerintah Daerah.
Segera merumuskan dan melaksanakan sistem penanganan masalah gizi buruk dan rawan pangan dengan berangkat dari akar masalah. Konsep ini diterjemahkan dalam pendekatan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Pendekatan emergency tetap diperlukan, namun dijalankan secara lebih cepat dan sampai pada sasaran. Penanganan dengan pendekatan emergency tanpa disertai dengan pendekatan yang mengatasi akar masalah hanya akan memboroskan sumberdaya, memperbesar peluang penyelewengan atau korupsi.
Kemudian, Pemda diharapkan secara serius dan terus-menerus melakukan sosialisasi di seluruh jajaran pemerintahan dan menerapkan secara luas kebijakan yang terkait dengan upaya penghapusan ketidakadilan gender di segala bidang kehidupan. Mengeliminasi terjadinya perkawinan anak-anak, perkawinan kontrak, perkawinan tanpa pencatatan. Mewujudkan pemenuhan dan penegakan hak-hak asasi perempuan, terutama berkaitan dengan hak atas informasi kesehatan reproduksi, Memperbaiki pelayanan KB dangan meningkatkan jumlah akseptor laki-laki.
Tidak kurang pentingnya, Pemerintah Daerah segera memperbaiki kelemahan atas pelaksanaan kebijakan otonomi daerah, khususnya di bidang pelayanan dasar pendidikan dan kesehatan. Menyelesaikan kasus-kasus korupsi, membangun sistem pengawasan yang efektif dengan memperluas demokratisasi dan akuntabilitas kekuasaan. Memperbaiki sistem penganggaran (budgeting) dengan memperhatikan partisipasi kelompok-kelompok marjinal, khususnya kelompok miskin dan kelompok perempuan. Mengembangkan program kesehatan lingkungan untuk mengurangi intensitas wabah penyakit, seperti malaria, TBC, diare, ISPA, campak. Ini diperlukan karena penyakit merupakan salah satu faktor penyebab berkembangnya busung lapar di sejumlah daerah. Juga sangat perlu merumuskan dan melaksanakan kebijakan yang mengarah ke pemerataan pembangunan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Di antaranya berupa kebijakan pengembangan usaha tani lahan kering; perluasan diversifikasi pangan; pengembangan diversifikasi usaha ekonomi untuk memperluas kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan; peningkatan alokasi anggaran untuk meningkatkan akses kelompok miskin terhadap pelayanan dasar pendidikan dan kesehatan; serta perluasan upaya konservasi lahan kritis.
Hal lain perlu dilakukan, segera meningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dengan lebih mendekatkan prasarana pelayanan ke komunitas-komunitas miskin atau menerapkan sistem pelayanan keliling (mobile), meningkatkan aktivitas petugas kesehatan dan posyandu, mengefektifkan kembali fungsi posyandu untuk monitoring atau deteksi dini, memenuhi hak ekonomi petugas kesehatan. Program revitalisasi posyandu tidak akan berjalan efektif tanpa peningkatan akses masyarakat atas posyandu dengan lebih mendekatkan posyandu ke komunitas-komunitas atau menerapkan sistem pelayanan keliling.
Last but not least, segera memperluas ketersediaan dan akses masyarakat atas sumberdaya air, baik air bersih maupun air untuk kegiatan di sektor pertanian. Perluasan ketersediaan air bisa dilakukan, di antaranya dengan memperbanyak pembangunan sumur, memperbanyak pembangunan jebakan air, memperbaiki dan memperluas sarana irigasi.
Walahu a’lam bi al-shawab.
Disampaikan pada acara Anugerah Saparinah, tgl 24 Agustus 2007, di Jakarta.
Koordinator Jaringan Penanggulangan Busung Lapar Nasional.
Jaringan Busung Lapar adalah sebuah jaringan yang terbentuk secara secara spontan pada 28 Juni 2005 di Jakarta untuk merespon persoalan busung lapar secara nasional. Jaringan ini terdiri dari kalangan aktivis, agamawan, medis, seniman, budayawan, pekerja sosial, akademisi dan kelompok profesi yang peduli terhadap persoalan sosial bangsa, khususnya masalah busung lapar.

[ICRP ]

Kembali




ã 2003 Yuliana Posted 30 April, 2003
Term paper
Intoductory Science Philosophy (PPS702)
Graduate Program / S3
Institut Pertanian Bogor
April 2003

Instructors :
Prof Dr Ir Rudy C Tarumingkeng
Dr Bambang Purwantara





KAITAN PERTUMBUHAN EKONOMI, KEMISKINAN DAN STATUS GIZI


Oleh:
YULIANA
A 561024011

PENDAHULUAN
Krisis yang melanda perekonomian Indonesia pada pertengahan tahun 1997, bersamaan dengan kekeringan panjang, telah berpengaruh negatif terhadap kondisi makro ekonomi secara menyeluruh dan khususnya terhadap kesejahteraan penduduk. Jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan dipercaya telah meningkat secara drastis karena dampak krisis tersebut. Data dan hasil Sensus mini Desember 1998 mengindikasikan suatu kenaikan besar pada insiden kemiskinan dari periode sebelum krisis (1996) ke keadaan akhir 1998.
Besarnya dampak krisis terhadap kemiskinan pada awalnya diperdebatkan antara berbagai metodologi pengukuran, khususnya untuk estimasi tahun 1998, masalah penting yang perlu ditelaah adalah proses dari pengaruh krisis terhadap peningkatan jumlah penduduk miskin di Indonesia. Krisis dipercaya telah memperburuk insiden kemiskinan terutama melalui kenaikan drastis harga-harga kebutuhan pokok dan komoditi-komoditi lainnya karena depresiasi nilai rupiah yang sangat cepat antara paruh kedua tahun 1998. Kenaikan harga-harga ini khususnya terhadap barang-barang input produksi impor, telah menyebabkan kontraksi sektor-sektor riil (dan sektor formal secara umum). Situasi ini kemudian diikuti oleh menjamurnya insiden kebangkrutan dan kegagalan bisnis, khususnya yang tergantung pada sumber-sumber dan komponen dari luar negeri. Sebagai akibatnya, tekanan pada kesempatan kerja di sektor informal perkotaan menjadi semakin besar, permintaan atas barang-barang dan jasa-jasa melemah, dan tingkat produksi serta pendapatan dari pertanian di perdesaan cenderung menurun drastis (Irawan dan Romdiati, 2000).
Lebih lanjut Irawan dan Romdiati (2000) mengungkapkan bahwa semua faktor tersebut pada gilirannya mengakibatkan suatu penurunan yang drastis pada pendapatan dan daya beli dari mayoritas penduduk. Memahami proses dampak krisis seperti ini, memburuknya angka kemiskinan adalah konsekuensi logis. Proses “pemiskinan” ini melibatkan mereka yang sebelum krisis mempunyai tingkat kesejahteraan, seperti ditunjukkan oleh rata-rata pengeluaran per kapita, sedikit di atas garis kemiskinan. Kelompok penduduk ini sering diistilahkan sebagai near poor yang mempunyai tingkat kesejahteraan sangat rawan terhadap perubahan sumber penghasilan dan tingkat pendapatan mereka serta terhadap gejolak harga-harga kebutuhan pokok. Kondisi ini menyebabkan sebagian masyarakat tidak mampu mengakses pangan dan pada akhirnya berpengaruh terhadap keadaan gizi masyarakat yang dapat digambarkan secara nyata pada kelompok rawan gizi terutama anak balita (termasuk bayi) serta ibu hamil dan menyusui.
KONDISI PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA
Profesor Simon Kuznets, salah satu ekonom besar yang pernah memenangkan hadiah Nobel dibidang ekonomi pada tahun 1971 atas usahanya mempelopori pengukuran dan analisis atas sejarah pertumbuhan pendapatan nasional negara-negara maju, telah memberikan suatu definisi mengenai pertumbuhan ekonomi (economic growth) suatu negara. Menurut Kuznets, pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari negara yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya. Kenaikan kapasitas itu sendiri ditentukan atau dimungkinkan oleh adanya kemajuan atau penyesuaian-penyesuaian teknologi, institusional (kelembagaan) dan ideologis terhadap berbagai tuntutan keadaan yang ada (Todaro, 2000).
Pertumbuhan ekonomi dalam pengertian ekonomi makro adalah penambahan produk domestik bruto (PDB), yang berarti peningkatan pendapatan nasional (Julianery, 2002). Petumbuhan ekonomi ada dua bentuk: extensively yaitu dengan penggunaan banyak sumberdaya (seperti fisik, manusia atau natural capital) atau intensively yaitu dengan penggunaan sejumlah sumberdaya yang lebih efisien (lebih produktif). Ketika pertumbuhan ekonomi dicapai dengan menggunakan banyak tenaga kerja, hal tersebut tidak menghasilkan pertumbuhan pendapatan per kapita. Namun ketika pertumbuhan ekonomi dicapai melalui penggunaan sumberdaya yang lebih produktif, termasuk tenaga kerja, hal tersebut menghasilkan pendapatan per kapita yang lebih tinggi dan meningkatkan standar hidup rata-rata masyarakat.
Kondisi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak tahun 1986 sampai akhir tahun 1996 dalam kondisi cukup baik. Keadaan rupiah stabil dengan depresiasi antara tiga dan empat persen. Kondisi nilai tukar yang relatif stabil ini membawa pertumbuhan ekonomi negeri ini berkisar antara tujuh dan delapan persen per tahun (Gambar 1). Memasuki tahun 1997 para pengamat ekonomi optimis perekonomian Indonesia akan tumbuh pesat. Bank Dunia meramalkan pertumbuhan ekonomi Indonesisa sekitar 8,2%. Patokan angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi tahun sebelumnya yang mencapai 7,82%. Julianery (2002) mengungkapkan bahwa dari dalam negeri, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM-FEUI) memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi turun menjadi 7,36%. Kemudian lembaga ini melakukan proyeksi lain dan menghitung pertumbuhan ekonomi hanya akan mencapai 6,4%.













Gambar 1. Laju Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (%) 1980 - 2003

Kebenaran ramalan angka pertumbuhan ekonomi yang dikemukakan tersebut tidak terbukti dan tidak satupun yang menghitung angka pertumbuhan ekonomi di tahun 1997 setepat 4,70%. Semua asumsi tertolak sebab tidak ada yang mengira nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika akan jatuh. Pada tanggal 11 Juli 1997 nilai rupiah menjadi Rp 2.430 setelah di tahun 1996 berada di tingkat Rp2.383. Sampai akhir tahun 1997 keadaan rupiah tidak stabil, sebentar naik dan tak lama kemudian turun lagi, akhirnya rupiah ditutup pada nilai Rp 4.650. Nilai rupiah yang tidak bisa dikendalikan itu menyulitkan seluruh aktivitas ekonomi.
Indonesia memasuki tahun 1998 dalam kondisi ekonomi yang sulit dan inflasi yang melambung menjadi 11,05. Pergantian kepala pemerintahan dari Suharto ke B.J. Habibie, pada tanggal 21 Mei 1998 tidak cukup kuat menahan jatuhnya rupiah. Di tahun tersebut rupiah mengalami depresiasi hampir 80 % dan inflasi melonjak menjadi 77.63%. Kondisi ini mengakibatkan hampir seluruh kegiatan ekonomi terhenti dan laju pertumbuhan ekonomi berada pada –13,13%. Salah satu sektor produksi yang mengalami kemerosotan paling dalam adalah industri pengolahan, yang sebelumnya dijadikan andalan ekspor nonmigas yang memiliki laju pertumbuhan per tahun sedikitnya 10%. Penyebab merosotnya industri pengolahan adalah rendahnya kemampuan belanja masyarakat dan kegiatan ekonomi yang lesu yang akhirnya mengakibatkan permintaan terhadap hasil produk ini berkurang. Disamping itu tingginya suku bunga pinjaman, dana kredit dari perbankan nasional yang terbatas dan harga bahan baku impor yang melonjak tinggi akibat dari rendahnya nilai rupiah serta penolakan bank-bank luar negeri terhadap surat pemberitahuan kredit dari bank nasional menghambat kegiatan industri. Pada akhirnya banyak perusahan yang harus tutup usaha dan mengakibatkan tingginya angka pemutusan hubungan kerja. Kondisi ini mengakibatkan sebagian besar masyarakat kehilangan pekerjaan dan pendapatan serta secara langsung meningkatkan jumlah penduduk miskin yang tidak mampu menjangkau kebutuhan pokoknya.
Meskipun belum lancar, kegiatan ekonomi mulai berjalan kembali di tahun 1999 dan hasilnya mulai menunjukkan pertumbuhan yang positif. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,79%. Ditahun ini inflasi turun menjadi 2,01% dan kurs menguat pada nilai Rp 7.100. Kegiatan perekonomian mulai bergerak lebih cepat di tahun 2000, sehingga meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi menjadi 4,90%. Namun pada tahun 2001, angka pertumbuhan ekonomi tersebut turun menjadi 3,32% dan sekarang (tahun 2003) pertumbuhan ekonomi sekitar 3,4%. Kurs rupiah yang turun menjadi Rp 10.400 turut berpengaruh terhadap turunnya pertumbuhan masing-masing lapangan usaha.
PERKEMBANGAN INSIDEN KEMISKINAN
Pengkajian berdasarkan data Susenas menunjukkan peningkatan jumlah penduduk miskin dari 22,5 juta jiwa tahun 1996 menjadi 49,5 juta tahun 1998. Pada tahun 1999, jumlah penduduk miskin sebesar 37,5 juta jiwa. Tingkat kemiskinan di perkotaan meningkat dari 12% tahun 1996 menjadi 26% tahun 1998. Namun demikian jumlah penduduk miskin terbesar tetap berada di pedesaan, yaitu diperkirakan sebesar 32 juta jiwa pada tahun 1998 dan 25 juta jiwa pada tahun 1999 (Tabor, Soekirman dan Martianto, 2000).
Lebih jauh, kenaikan substansial pada kemiskinan absolut pada periode Februari 1996–Desember 1998 dalam kenyataannya juga berkaitan dengan perubahan drastis pada garis kemiskinan baik di perkotaan maupun di pedesaan. Dibandingkan tahun 1996, garis kemiskinan pada tahun 1998 meningkat sekitar 153,5% (dari Rp38.246 menjadi Rp96.959/kapita/bulan) dan 165,5% (dari Rp27.413 menjadi Rp72.780/kapita/bulan) masing-masing di perkotaan dan di pedesaan. Hal ini mengindikasikan bahwa nilai nominal dari pengeluaran yang dibayar oleh seseorang per bulan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya pada Desember 1998 telah berlipat lebih dari dua kali dibandingkan nilai pada Februari 1996. Besarnya kenaikan garis kemiskinan tersebut konsisten dengan meroketnya harga-harga, khususnya komoditi makanan pada periode yang sama, dan sebagian kenaikan karena pendefinisian kembali pada paket non-makanan dalam garis kemiskinan. Dari Februari 1996 ke Desember 1998, tingkat inflasi dilaporkan sebesar 98,64% untuk indek umum, dan 148,6% untuk kelompok makanan (Irawan dan Romdiati, 2000).
Angka kemiskinan yang diukur dengan head-count ratio, di Jawa Barat cenderung lebih tinggi dari pada di Sumatera, tetapi angka tertinggi terdapat di wilayah lain khususnya Indonesia bagian timur. Dengan menggunakan standar 1998, angka kemiskinan di Jawa-Bali meningkat 17,3 persen pada 1996 menjadi 24,2 persen pada Desember 1998, dibandingkan dengan angka di Sumatera yang meningkat 14,2 persen menjadi 17,4 persen, dan di pulau lainnya yang meningkat dari 22,6 persen menjadi 32,0 persen pada periode yang sama (BPS, 2000). Dilihat dari perkembangan jumlah penduduk miskin secara absolut, daerah perkotaan di ketiga wilayah ini menunjukkan peningkatan yang lebih besar selama periode tersebut dibandingkan dengan yang terjadi di daerah pedesaan. Di Jawa-Bali, jumlah penduduk miskin meningkat sebesar 80 persen di perkotaan, dibanding 27 persen di pedesaan, selama 1996-Desember 1998. Peningkatan di Sumatera tercatat lebih kecil yaitu 64 persen dan 18 persen, sedangkan di pulau-pulau lainnya kenaikan adalah 116,7 persen dan 37,8 persen di masing-masing daerah perkotaan dan pedesaan selama periode yang sama. Temuan ini mengindikasikan bahwa dampak krisis ekonomi terhadap peningkatan insiden kemiskinan terlihat lebih besar di perkotaan dari pada di pedesaan, terutama di wilayah perkotaan Indonesia bagian timur dan Jawa-Bali. Hal ini diduga karena ketergantungan pada sektor formal dan tingkat kenaikan harga-harga lebih tinggi di perkotaan dari pada di pesedaan, sehingga penduduk kota lebih cepat merasakan dampak krisis. Di samping itu daerah pedesaan terutama di Sumatera dan beberapa provinsi di Sulawesi yang banyak mengandalkan tanaman perkebunan untuk ekspor, diperkirakan justru menikmati dampak positif akibat kenaikan kurs dollar (Raharto dan Romdiati, 2000).

STATUS GIZI PENDUDUK INDONESIA
Status gizi merupakan salah satu determinan utama status kesehatan penduduk. Salah satu indikator status gizi penduduk yang rendah adalah tingginya prevalensi gizi kurang dan gizi buruk pada anak bawah lima tahun (balita) yang didasarkan pada berat badan menurut umur (BB/U). Menurut Jahari dkk (2000), prevalensi gizi kurang pada anak balita (usia 0 – 59 bulan) secara nasional menurun dari 36,2% di tahun 1989 menjadi 29,8% di tahun 1995 dengan kecepatan penurunan 1,0% per tahun, dan turun lagi dari 29,8% di tahun 1995 menjadi 28,3% di tahun 1998 dengan kecepatan penurunan 0,5% per tahun. Selanjutnya dari tahun 1998 ke tahun 1999 prevalensi gizi kurang turun dari 28,3% menjadi 25,4% dengan kecepatan penurunan 2,9% per tahun (Gambar 2). Penurunan prevalensi gizi kurang dari tahun 1999-2000 kembali kecil yaitu dari 25,4% menjadi 24,7% atau penurunan sebesar 0,7% (Jahari dan Sumarno, 2002). Penurunan prevalensi gizi kurang tersebut dijumpai baik di daerah kota maupun desa. Penurunan prevalensi gizi kurang yang kecil dari tahun 1995 ke tahun 1998 tidak seperti yang diharapkan karena prevalensi gizi kurang di Indonesia masih tergolong tinggi. Bila kecepatan penurunan prevalensi dipertahankan 1,0% per tahun seperti yang terjadi antara tahun 1989 dan tahun 1995, maka prevalensi gizi kurang yang diharapkan tahun 1998 adalah sebesar 26,8%. Perbedaan antara prevalensi yang ditemukan (28,3%) dan yang diharapkan (25,8%) pada tahun 1998 tersebut memberikan indikasi tentang adanya masalah gizi.


Sumber : Susenas 2000
Gambar 2. Prevalensi gizi kurang ( < -2.0 SD z_BBU) pada anak umur 0-56 bulan menurut daerah dan tahun

Prevalensi gizi kurang di Indonesia pada tahun 1998 masih lebih tinggi dari prevalensi gizi kurang di negara-negara tetangga (Malaysia, Philippina, dan Thailand) yang besarnya sekitar 20% pada tahun yang sama. Lebih lanjut, prevalensi gizi kurang pada tahun 2000 masih tergolong tinggi dari target penurunan menjadi 18% pada akhir 2000.
Menurut data Susenas (2001) prevalensi gizi kurang sedikit berbeda dari yang dikemukakan oleh Jahari dkk (2000). Data gizi kurang menurun dari 31,2%; 28,3%; 20,0%; 19,0% dan 18,3% berturut-turut dari dari tahun 1989; 1992; 1995; 1998 dan 1999. Tetapi untuk kasus gizi buruk terjadi peningkatan pada tahun 1989 dari 6,3% menjadi 11,4% tahun 1995 (Gambar 3).

Sumber : Susenas 1989 - 1999
Gambar 3. Prevalensi Gizi Kurang (BBR) dan Gizi Buruk (BBSR) pada Anak Balita

Masalah gizi memiliki etiologi yang sangat komplek, tidak saja dipengaruhi oleh intake zat gizi dan keadaan kesehatan individu tetapi juga berkaitan erat dengan dengan keadaan sosial ekonomi masyarakat. Oleh karena itu meningkatnya prevalensi gizi buruk yang diikuti dengan menurunnya prevalensi gizi kurang tingkat ringan memberikan indikasi makin melebarnya kesenjangan keadaan ekonomi antara masyarakat miskin dan masyarakat kaya.


KAITAN PERTUMBUHAN EKONOMI, KEMISKINAN DAN STATUS GIZI


Selama periode pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi, jumlah penduduk miskin di Indonesia menurun dengan pesat dari sekitar 54,2 juta orang (40,1% terhadap total penduduk) pada tahun 1976 menjadi 22,5 juta orang (11,3%) pada tahun 1996. Akan tetapi, pencapaian atas penurunan kemiskinan ini terimbas oleh krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan 1997. Bersamaan dengan meningkatnya harga-harga dan penurunan rata-rata pendapatan karena dampak krisis, laju pertumbuhan ekonomi menurun drastis menjadi –13,13% pada tahun 1998 dibandingkan 7,82% pada tahun 1996. Jumlah penduduk miskin mencapai sekitar 49,5 juta orang (24,23%) pada Desember 1998, atau suatu kenaikan absolut sebesar 27 juta orang dibandingkan dengan kondisi tahun 1996 (22,5 juta orang).
Irawan dan Romdiati (2000) mengemukakan bahwa krisis ekonomi yang dilihat dari menurunnya laju pertumbuhan ekonomi di Indonesia telah menyebabkan bertambahnya jumlah penduduk miskin, melalui beberapa mekanisme yang kesemuanya menyebabkan penurunan drastis pada pendapatan dan daya beli dari mayoritas penduduk, khususnya golongan bawah. Menurunnya pendapatan secara negatif berdampak pada kualitas dan pola konsumsi rumah tangga. Dengan tingkat pendapatan yang sangat terbatas, banyak rumah tangga miskin terpaksa merubah pola makanan pokoknya ke barang paling kurang dengan jumlah yang berkurang. Sementara di beberapa kasus, seperti yang ditemukan oleh Irawan (1998), penurunan tajam pada pendapatan telah menyebabkan banyak rumah tangga menjadi sangat nestapa karena mereka mengalami kesulitan untuk membeli makanan, penurunan ini umumnya mengakibatkan berubahnya pola pengeluaran konsumsi dengan proporsi lebih besar untuk kebutuhan makanan dibandingkan untuk kebutuhan bukan makanan, seperti untuk kebutuhan pendidikan dan kesehatan. Pada studi lainnya, Irawan (1999) juga menemukan bahwa mayoritas penduduk pedesaan cenderung merubah pola konsumsi makanan, baik kualitas maupun kuantitas, seperti dari nasi ke jagung atau umbi-umbian, dan dari sebanyak 3 kali ke 1 atau 2 kali makan sehari.
Adanya keterkaitan status gizi dan pembangunan ekonomi juga dikemukakan oleh Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan dalam Soekirman, 2000. Dalam salah satu pidatonya dikatakan bahwa, “Gizi yang baik dapat merubah kehidupan anak, meningkatkan pertumbuhan fisik dan perkembangan mental, melindungi kesehatannya dan meletakkan pondasi untuk masa depan produktivitas anak”. Pernyataan ini memperkuat hasil riset para pakar gizi dan kesehatan mengenai adanya kaitan antara pangan, gizi, kesehatan dan pembangunan ekonomi. Mekanisme hubungan tersebut digambarkan secara sederhana oleh Martorell (1998) yang terlihat pada Gambar 4. Terjadinya perbaikan ekonomi maka akan mengurangi kemiskinan dan selanjutnya akan meningkatkan status gizi serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan produktivitas.

















Gambar 4. Keterkaitan antara Pertumbuhan Ekonomi, Kemiskinan dan Status Gizi (Martorell, 1998)

PENUTUP
Sejalan dengan mulai terjadinya pertumbuhan ekonomi yang positif yang ditandai dengan stabilnya harga-harga komoditi dasar, jumlah penduduk miskin pada Februari 1999 diperkirakan sedikit menurun menjadi sekitar 48,4 juta orang (23,55% dari total penduduk), diikuti dengan suatu penurunan tajam yaitu sekitar 37,5 juta orang pada Agustus 1999. Hal ini berarti bahwa terdapat suatu pengurangan sebesar 12 juta orang miskin selama periode Desember 1998 – Agustus 1999. Baik di perkotan maupun di pedesaan, jumlah penduduk miskin juga menurun drastis pada Agustus 1999, yaitu masing-masing mencapai 12,4 juta orang (15,09%) dan 25,1 juta orang (20,22%). Standar minimum untuk kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang dipergunakan dalam pendefinisian garis kemiskinan untuk data Februati dan Agustus 1999 adalah sama dengan yang diaplikasikan pada data Desember 1998. Oleh karena itu, penurunan sebesar 12 juta orang miskin selama periode Desember 1998 – Agustus 1999 hampir pasti dipengaruhi oleh deflasi harga-harga, khususnya komoditi makanan, yang mencapai –5,58 persen selama periode tersebut. Angka inflasi untuk komoditi bukan makanan cenderung untuk menurun sejak Maret 1999, dan mencapai kurang dari 3 persen selama periode yang sama. Sementara angka inflasi/deflasi seperti yang diukur dengan perubahan indek harga konsumen (CPI) mewakili perubahan harga-harga di perkotaan, indek harga konsumen yang dibayar oleh petani untuk konsumsi rumah tangga dapat merefleksikan perubahan harga-harga di pedesaan. Indek ini dari 14 provinsi yang dicakup secara rata-rata mengalami suatu penurunan sebesar 5,82 persen selama periode Februari – Juli 1999.
Satu hal perlu dicatat bahwa variasi regional pada angka kemiskinan cenderung merefleksikan adanya perbedaan pembanguan sosial, tingkat dan pola pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan jumlah penduduk antar wilayah. Variasi juga mengindikasikan adanya perbedaan pada karakteristik kemiskinan, latar belakang sosial dan budaya, serta kemampuan wilayah untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk dan untuk menghapuskan kemiskinan. Bagaimanapun perbedaan-perbedaan pada pembangunan sosial-budaya dan ekonomi ini tidak tampak dengan kentara pada insiden kemiskinan, khususnya antara Jawa-Bali dan luar Jawa-Bali (BPS dan UNDP, 1999). Memasuki era tahun 1990-an, Bank Dunia memberikan prioritas pinjaman kepada negara berkembang untuk melakukan investasi di bidang gizi melalui pertumbuhan ekonomi dan penurunan kemiskinan.
DAFTAR PUSTAKA


BPS and UNDP (1999). Crisis, Poverty and Human Development in Indonesia 1998. BPS-UNDP, Jakarta.
BPS. 2000. Peta dan Pekembangan Tingkat Kemiskinan di Indonesia. Paper.
Irawan, P.B. and A. Susanto. 1999. Impact of the Economic Crisis on the Number of Poor People, paper dipresentasikan pada International Seminar on Agricultura Sector During the Turbulence of Economic Crisis: Lessons and Future Directions. The Centre for agro-Socioeconomic Research, Agency for Agricultural Research and Development of Agriculture, Bogor, 17 – 18 February 1999.
Irawan, P,B & H, Romdiati. 2000. Dampak Krisis Ekonomi terhadap Kemiskinan dan Beberapa Implikasinya untuk Strategi Pembangunan. Prosiding Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VII. LIPI, Jakarta.
Irawan, P.B. 1998. Analisis Studi Data Kualitatif: Hasil Survei Dampak Krisis Terhadap Ketahanan Ekonomi Rumahtangga di Pedesaan. Jakarta: BPS-UNDP, mimeo.
Irawan, P.B. 1999. Analisis Perkembangan dan Dimensi Kemiskinan. Jakarta: BPS-UNDP, mimeo.
Jahari, A.B. dan Sumarno. 2002. Status Gizi Penduduk Indonesia. Artikel dalam Majalah Pangan, Media Komunikasi dan Informasi. Puslitbang Bulog, Jakarta.
Jahari, A.B. Sandjaja, S. Herman, Soekirman, I. Jusat, F. Jalal, D. Latief dan Atmarita. 2000. Status Gizi Balita di Indonesia Sebelum dan Selama Krisis. Prosiding Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VII. LIPI, Jakarta.
Julianery, B.E. 2002. Produk Domestik Bruto. Makalah dalam Indonesia dalam Krisis 1997 – 2002. Kompas, Jakarta.
Martorell, R. 1998. Nutrition, Human Capital and National Economic Development. Prosiding Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VI. LIPI, Jakarta.
Raharto, A & H, Romdiati. 2000. Identifikasi Rumah Tangga Miskin. Prosiding Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VII. LIPI, Jakarta.
Soekirman. 2000. Ilmu Gizi dan Aplikasinya. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.
Tabor, S. Soekirman dan D. Martianto. 2000. Keterkaitan antara Krisis Ekonomi, Ketahanan Pangan dan Perbaikan Gizi. Widya karya Nasional Pangan dan Gizi VII. LIPI, Jakarta.
Todaro, M.P. 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. (Alih bahasa: Haris Munandar). Erlangga, Jakarta.

GAYA HIDUP SEHAT

GAYA HIDUP SEHAT
Rabu, 2008 Januari 09
Apakah Promosi Kesehatan Itu ?Health promotion is the proces of enabling people to control over and improve their health (WHO, 1986).

Promosi Kesehatan adalah kombinasi berbagai dukungan menyangkut pendidikan, organisasi, kebijakan dan peraturan perundangan untuk perubahan lingkungan dan perilaku yang menguntungkan kesehatan (Green dan Ottoson, ’98).Promosi Kesehatan adalah proses pemberdayaan masyarakat agar mampu memelihara dan meningkatkan kesehatannya. (definisi yang selama ini dipakai oleh Pusat Promkes).Proses pemberdayaan tersebut dilakukan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat; Artinya proses pemberdayaan tersebut dilakukan melalui kelompok-kelompok potensial di masyarakat, bahkan semua komponen masyarakat.Proses pemberdayaan tersebut dilakukan sesuai sosial budaya setempat, artinya sesuai dengan keadaan, permasalahan dan potensi setempat.Proses pembelajaran tersebut juga dibarengi dengan upaya mempengaruhi lingkungan, baik lingkungan pisik maupun non pisik, termasuk kebijakan dan peraturan perundangan.Promosi kesehatan di dunia dikenal sejak tahun 1980-an, tetapi di Indonesia baru dikembangkan sejak tahun 1995, sebagai pengembangan lebih lanjut dari “pendidikan” dan “penyuluhan” kesehatan.Ruang Lingkup Promosi KesehatanPromosi Kesehatan adalah proses pemberdayaan masyarakat agar dapat memelihara dan meningkatkan kesehatannya. (Health promotion is the process of enabling people to control over and improve their health).

Promosi kesehatan mencakup pendidikan kesehatan (health education) yang penekanannya pada perubahan/perbaikan perilaku melalui peningkatan kesadaran, kemauan dan kemampuan.Promosi kesehatan juga mencakup pemasaran sosial (social marketing), yang penekanannya pada pengenalan produk/jasa melalui kampanye.Promosi kesehatan adalah juga upaya penyuluhan (upaya komunikasi dan informasi) yang tekanannya pada penyebaran informasi.Promosi kesehatan juga merupakan upaya peningkatan (promotif), yang penekanannya pada upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan.Promosi kesehatan juga mencakup upaya advokasi di bidang kesehatan, yaitu upaya untuk mempengaruhi lingkungan atau pihak lain agar mengembangkan kebijakan yang berwawasan kesehatan (melalui upaya legislasi atau pembuatan peraturan, dukungan suasana dan lain-lain di berbagai bidang/sektor, sesuai keadaan).Promosi kesehatan adalah juga pengorganisasian masyarakat (community organization), pengembangan masyarakat (comm. Development), penggerakan masyarakat (social mobilization), pemberdayaan masyarakat (comm. Empowerment), dll.Ruang lingkup Promosi kesehatan bisa lebih luas lagi, sesuai dengan keadaan dan perkembangan.Dasar Pemikiran/Latar Belakang

Kesehatan adalah hak asasi manusia dan merupakn investasi, juga merupakan karunia Tuhan, oleh karenanya perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya. Promosi kesehatan sangat efektif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan tersebut;
Faktor perilaku dan lingkungan mempunyai peranan sangat dominan dalam peningkatan kualitas kesehatan, dan merupakan pilar-pilar utama dalam pencapaian Indonesia Sehat 2010. hal-hal tersebut merupakan bidang garapan promosi kesehatan.
Masalah perilaku menyangkut kebiasaan, budaya, dan masalah-masalah lain yang tidak mudah diatasi. Untuk itu semua perlu peningkatan kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk hidup sehat, perlunya pengembangan kemitraan dan pemberdayaan masyarakat, dan untuk itu diperlukan peningkatan upaya promosi kesehatan.
Sementara itu Promosi Kesehatan telah ditetapkan sebagai salah satu program unggulan, sehingga perlu digarap secara sungguh-sungguh dengan dukungan sumber daya yang memadai.
Pada dasawarsa sekarang, juga pada masa-masa y.a.d. kita mengalami transisi epidemiologi, transisi demografi, dll, di pihak lain permasalahan juga semakin kompleks dengan berbagai krisis yang belum kunjung reda. Selain itu kita juga sedang dalam era globalisasi dan disentralisasi. Itu semua justru semakin memperkuat perlunya peningkatan upaya promosi kesehatan.
Sementara itu Peraturan dan perundangan yang ada memberikan landasan hukum yang cukup kuat terhadap penyelenggaraan promosi kesehatan.Kerangka Konsep Promosi Kesehatan
Visi / Yang diharapkan : berkembangnya perilaku dan gerakan sehat di masyarakat, menuju Indonesia Sehat 2010.
Dasar/acuan penyelenggaraan Promosi Kesehatan, yaitu : Paradigma Sehat atau Pembangunan Nasional yang berwawasan Kesehatan;
Ruang lingkup Promosi Kesehatan, yaitu : Perilaku proaktif memelihara dan meningkatkan kesehatan (contoh : olahraga/aktivitas fisik yang teratur), mencegah resiko terjadinya penyakit (contoh : tidak merokok atau menjaga kawasan tanpa asap rokok), melindungi diri dari ancaman penyakit (contoh : memakai helm/sabuk pengaman waktu berkendaraan), dan berperan aktif dalam upaya kesehatan (misalnya di Posyandu).
Area atau program yang diprioritaskan dalam promosi kesehatan, yaitu : KIA, Gizi, Kesling, Gaya Hidup dan JPKM.
Tatanan utama, yang menjadi sasaran promosi kesehatan, yaitu : Rumah tangga (sasaran ibu, bayi dan balita), Sekolah (sasaran : anak sekolah), tempat-kerja (saaran : usia produktif), tempat umum (remaja/anak muda), sarana pelayanan kesehatan (pengunjung).
Strategi pokok : Dikenal dengan singkatan ABG, yaitu : Advokasi (upaya untuk mempengaruhi kebijakan), Bina suasana (upaya pembentukan opini publik), dan Gerakan/pemberdayaan masyarakat (upaya untuk menggerakan dan/atau memberdayakan senua komponen masyarakat).
Mitra utama : para pembuat kebijakan, lintas sektor, kalangan swasta, media massa, Perguruan Tinggi, dan semua komponen masyarakat : tokoh agama, tokoh masyarakat, LSM, organisasi profesi, artis, dll.Strategi, Bentuk Kegiatan dan Pesan Utama
Berdasarkan kerangka konsep khususnya strategi pokok tsb (dimuka), kegiatan nyata promosi kesehatan yang perlu dilakukan adalah :
Pemberdayaan masyarakat, yaitu upaya untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian semua komponen masyarakat untuk dapat hidup sehat.
Pengembangan kemitraan, yaitu upaya untuk membangun hubungan para mitra kerja berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling memberikan manfaat.
Upaya advokasi, yaitu upaya untuk mendekati, mendampingi, da mempengaruhi para pembuat kebijakan sacara bijak, sehingga mereka sepakat untuk memberi dukungan terhadap pembangunan kesehatan.
Pembinaan suasana, yaitu kegiatan untuk membuat suasana atau iklim yang mendukung terwujudnya perilaku sehat dengan mengembangkan opini publik yang positif melalui media massa, tokoh masyarakat, “public figur”’ dll.
Pengembangan Sumber Daya Manusia, yaitu kegiatan pendidikan, pelatihan, pertemuan-pertemuan, dll untuk meningkatkan wawasan, kemauan, dan ketrampilan baik petugas kesehatan maupun kelompok-kelompok potensial masyarakat.
Pengembangan iptek, yaitu kegiatan untuk selalu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang promosi, informasi, komunikasi, pemasaran, advokasi, dll yang selalu tumbuh dan berkembang.
Pengembangan media dan sarana, yaitu kegiatan untuk “mempersenjatai” diri dengan penyediaan media dan sarana yang diperlukan untuk mendukung kegiatan promosi kesehatan.
Pengembangan Infra Struktur, yaitu kegiatan penunjang promosi kesehatan : sekretariat, tim promosi, serta berbagai perangkat keras dan perangkat lunak yang diperlukan.
Sedangkan Pesan-pesan kesehatan :
Temanya adalah : Kesehatan adalah Hak Asasi Manusia, yang perlu dipelihara dan ditinfkatkan kualitasnya, dan Kesehatan adalah investasi, sehingga perlu terus dipupuk dan dikembangkan.
Fokus Pesan adalah : Peningkatan ketahanan keluarga dan kepedulian terhadap lingkungan; sedangkan
Pesan-pesan Utama adalah : Aktifitas fisik/olahraga teratu, Melaksanakan diet/pengaturan pola makan dengan gizi seimbang, Tidak merokok atau menjaga kawasan tanpa asap rokok, dan mempraktekkan 5 S (Senyum, salam, Sapa dan Santun sebagai perwujudan pribadi yang sehat jasmani, rohani dan sosial).Penyelenggara Kegiatan

Kegiatan promosi kesehatan diselenggarakan melalui proses : Pengkajian, Perencanaan, Pengerakan pelaksanaan, serta Pemantauan, penilaian dan Pelaporan.Phase pengkajian atau pemetaan masalah : Proses dimulai dari pengkajian kualitas hidup, masalh kesehatan, masalah perilaku, faktor penyebab, sampai keadaan internal dan external, Output phase pengkajian ini adalah : pemetaan masalah perilaku, penyebabnya, dll.Informasi Kualitas Kehidupan : diperoleh cukup dengan melihat data sekunder (Strata keluarga), karena informasi ini hanya berfungsi sebagai latar belakang masalh saja. Demikian pula Phase pengkajian atau pemetaan masalah : Proses dimulai dari pengkajian kualitas hidup, masalh kesehatan, masalah perilaku, faktor penyebab, sampai informasi tentang derajat kesehatan juga dapat dilihat dari data sekunder (data penyakit di Puskesmas).Informasi tentang perilaku sehat : diperoleh dari kunjungan rumah arau di Pos Yandu (dengan menggunakan formulir PHBS; akan diketemukan strata tatanan : I, II, III, dan IV).Informasi tentang faktor penyebab (pre desposing, enabling dan reenforcing factors) diperoleh melalui survey cepat etnografi (Rapid etnography assesment) yang dilakukan oleh tingkatan kabupaten / kota.Informasi tentang faktor internal (tenaga, sarana, dana promosi kesehatan) dan external (peraturan, lingkungan di luar unit) diperoleh dari lapangan/tempat.Phase Perencanaan : Output phase ini adalah rumusan rencana, dan yang terpenting adalah rumusan tujuan (yaitu rumusan peningkatan perilaku yang diinginkan, setelah mengkaji fakta perilaku, faktor-faktor internal dan external), dan rumusan kegiatan untuk melakukan intervensi terhadap faktor penyebab, yang diinventarisir dan disusun dalam kegiatan yang berurutan.Phase Penggerakan pelaksanaan : Outputnya adalah siapnya kegiatan (pra pelaksanaan : yaitu tenaga, sarana, dll), dan pelaksanaan kegiatan sesuai rencana.Phase Pemantauan : Fokusnya pada pemantauan pra pelaksanaan dan pada pelaksanaan : apabila ada penyimpangan segera dilakukan perbaikan (koreksi).Phase penilaian : Fokusnya pada perbaikan rencana y.a.d. : perlu dilihat keseluruhan komponen : rumusan tujuan, jenis kegiatan intervensi, dll.Phase pelaporan : adalah pelaporan keseluruhan proses dan komponen, termasuk tujuan yang dicapai, kegiatan yang dilakukan, sumber daya yang dipergunakan, dll.Sentralisasi vs Desentralisasi
Peran Sektor Kesehatan dan Lintas Sektor dalam Promosi Kesehatan
Peran Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota
Peran Sektor Kesehatan dan Lintas Sektor dalam Promosi Kesehatan
Perumusan kebijakan teknis promosi kesehatan di wilayahnya.
Penyediaan sarana promosi kesehatan sesuai standar.
Mengupayakan dana yang memadai untuk promosi kesehatan.
Mengembangkan kemitraan dengan berbagai pihak.
Mengupayakan pemberdayaan kelompok potensial di masyarakat di bidang kesehatan.
Memantau dan mengawasi jalannya kegiatan promosi kesehatan di wilayahnya.
Melakukan hal-hal lain sesuai keadaan, masalah dan potensi daerah.Indikator Keberhasilan
Indikator input :
Adanya organisasi/lembaga khusus promosi kesehatan/PKM;
Pemenuhan standar tenaga profesional (jafung PKM) di kabupaten/kota;
emenuhan standar sarana promosi kesehatan di kabupaten/kota.
Indikator proses :
Adanya kebijakan sektor yang mendukung pengembangan perilaku dan lingkungan sehat (minimal 3 per sektor).
Frekwensi informasi melalui media massa (TV; 5/mg; Radio; 1/hr; koran : 2/mgg).
Jumlah kelompok potensial yang bergerak bidang kesehatan di kabupaten/kota (5 per kecamatan).
Indikator output :
Perorangan : perbaikan prosentase faktor perilaku beresiko (aktivitas fisik, diet/gizi baik dan tidak merokok) : 80%
Prosentase tatanan keluarga sehat : 65 %
Ratio Desa/Posyandu = 1 : 5
Diposting oleh chimin di 20:16 6 komentar
Tips Hidup Sehat

Hindari Menu Makanan yang Buruk !Semua orang berpacu dengan waktu mengejar target dan harapan yang telah ditentukan. Maka sebagian BESAR orang, melupakan dan melalaikan tentang pentingnya masalah Menu Makanan yang baik, mereka hanya mementingkan target, harapan serta ambisi mereka saja. Sedangkan Menu Makanan tidak tidak terpikirkan lagi, yang penting bagi mereka adalah MAKAN yang ENAK dan CEPAT !Salah satu dampak yang terlihat jelas adalah Menu Makanan.Contoh yang disebelah ini sangat Menggiurkan tetapi harus DIHINDARI ! Maka Pengetahuan tentang Menu Makanan menjadi sangat penting karena dengan demikian kita akan mengetahui apa yang sebenarnya kita berikan untuk tubuh kita.Untuk mendapatkan Menu makanan yang Sehat kita harus mengurangi Kadar Lemak Jenuh dalam semua menu makanan kita dan harus berusaha menyingkirkan dan menghindarinya semampu kita.1. Membuang semua Lemak yang Kelihatan dan Tidak Kelihatan.2. Mengurangi semua Makanan berlemak.3. Mengurangi jumlah Lemak Jenuh (Lemak Hewani) dalam makanan.4. Mengurangi Makanan yang berkolesterol.Meningkatkan Makanan SEHAT !Kemakmuran meningkat, gaya hidup juga meningkat mengikutinya, tetapi apakah Keadaan Kondisi Kesehatan kita meningkat juga ?Untuk mengimbangi masuknya Lemak Jenuh (Omega 6) dari Menu Makanan kita dan juga meningkatnya produksi Kolesterol Jahat (LDL) yang diproduksi dalam hati (liver) yang disebabkan Stress maupun Depresi karena Tekanan Keadaan yang mempengaruhi kita pada jaman ini, maka harus meningkatkan konsumsi Menu Makanan Sehat, sebagai berikut :1. Meningkatkan Jumlah Lemak tidak Jenuh Ganda dalam Menu Makanan.2. Meningkatkan Jumlah Menu Makanan berserat Tinggi.3. Meningkatkan konsumsi Sayuran dan Buah-buahan berserat tinggi.Olahraga secara teraturMelakukan aktifitas fisik atau berolahraga secara teratur untuk dapat meningkatkan metabolisme tubuh secara menyeluruh, maka pembakaran Lemak dan kolesterol juga meningkatkan serta memperlancarkan peredaran dan sirkulasi darah pada seluruh tubuh kita dan juga penting sekali untuk latihan untuk otot-otot pada jaringan jantung kita. Keberhasilan yang dicapai dari olahraga bergantung sesuai dengan kadar kegiatan olahraga dan keteraturannya sesuai dengan kemampuan kita masing-masing pribadi.Hindari kehidupan yang STRESSKemakmuran meningkat, Gaya Hidup juga mengikutnya. Dengan harapan tindakan untuk menjaga & memperbaiki kondisi Kesehatan kita juga meningkat juga ? Karena mereka umumnya tidak memperhatikan kemampuan mereka, maka umumnya masyarakat akan mengalami Stress yang tinggi karena desakan cita-cita, target, ambisi maupun idealisme yang tinggi pula. Apakah kita mempunyai kemampuan untuk itu ?Apakah kita bersabar untuk menerima keadaan ?Bagaimana kita nanti ? Keluarga ? Isteri ? Anak-anak ?Stress telah menyerang tanpa disadari oleh yang mengalaminya, Stress mempengaruhi dan meningkatkan hormon stress dalam tubuh yang berakibat naiknya tekanan darah dan pada umum stress mendorong kegiatan yang merugikan dan merusak, seperti minum minuman keras, merokok, bergaul secara bebas, narkotik dan lain-lain. Akibat stress juga mengakibatkan peningkatan produksi Kolesterol Jahat (LDL) yang diproduksi oleh hati (liver) yang dapat mengakibatkan meningkatnya resiko penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah (Arteriosklerosis). Maka hindari Stress untuk menghindari dampak buruk yang lebih banyak dan komplek dengan beristirahat, berlibur dan bertamasya.
Diposting oleh chimin di 20:16 6 komentar
GAYA HIDUP DAN GAYA HIDUP SEHAT, TANTANGAN PROMOSI KESEHATAN DI INDONESIAOleh: Ari W.

Gaya hidup dan gaya hidup sehat, kini merupakan kosa kata yang seksi, menjadi jualan yang laris manis. Simaklah belantara industri media – media kertas maupun elekronik – betapa banyak dagangan yang ditawarkan atas nama gaya hidup dan gaya hidup sehat. Dan menjadi sebuah kewajiban para praktisi marketing dan periklanan untuk mengetahui gaya hidup para konsumen, untuk dipuasi atau untuk dirubah gaya hidup dan gaya hidup sehat mereka. Begitulah adanya dunia industri kini dan kitapun terperangkap dalamnya, bagai ikan didalam bubu. Apa boleh buat, itulah kutukan peradaban. Dan setiap gaya hidup – sehat atau tidak sehat – yang kita jalani sadar maupun tidak sadar, ada ongkos didalamnya, ada harga yang harus dibayar – pra maupun pasca – gaya itu. Dan seyogyanya menjadi kerisauan bersama.Tentang gaya hidup ituTerdapat berbagai pengertian tentang gaya hidup, tergantung dari mana kita berkepentingan melihatnya. Seperti orang orang pemasaran misalnya. Bagi kalangan ini, kesamaan atau kebedaan antara usia, tempat tinggal, suku , agama, kebangsaan dan kewargaan, tingkat pendidikan, tingkat penghasilan, belumlah menggambarkan apa apa. Itu baru pengkategorian demografis atau baru menjawab “ siapa konsumen kita”. Padahal bagi pembidik pembidik pasar, ada yang lebih penting yaitu : apa yang ada dikepala mereka ( segmentasi psikografi, kohor) – apa yang mereka beli dan dimana mereka dapat dijangkau. Apa yang ada dikepala mereka, itulah salah satu cara segmentasi pasar modern. Apa yang ada dikepala konsumen adalah AIO ( A=aktivitas, I = interes, minat, O=opini, pendapat. Resultante dari AIO inilah yang disebut gaya hidup, yang dalam pengertian pemasaran : Gaya hidup ialah bagaimana seseorang menghabiskan waktu dan uangnya.Mengetahui hal hal ini berarti mengetahui apa yang dapat dijual kepada mereka, juga dimana atau cara bagaimana mereka dapat dijangkau Tulisan yang lebih detil tentang ini dapat dibaca dalam berbagai referensi anatara lain Membidik Pasar Indonesia- Rhenald Kasali, Gramedia Jakarta 2001.Uraian dalam artikel ini hanyalah sekedar perbandingan dengan pengertian dan analisis Gaya Hidup dari sisi kesehatan atau Gaya Hidup Sehat.Gaya hidup - dari penglihatan kesehatanDalam health promotion glossary ( WHO 1998) , dirumuskan pengertian sebagai berikut :Lyfestyle is a way of living based on identifiable patterns of behaviour which are determined by the interplay between an individual’s personal characteristics, social interactions, and socioeconomicand environmental living condition.Pola pola perilaku (behavioral patterns) akan selalu berbeda dalam situasi atau lingkungan social yang berbeda, dan senantiasa berubah, tidak ada yang menetap (fixed). Gaya hidup individu, yang dicirikan dengan pola perilaku individu, akan memberi dampak pada kesehatan individu dan selanjutnya pada kesehatan orang lain. Dalam “kesehatan” gaya hidup seseorang dapat diubah dengan cara memberdayakan individu agar merubah gaya hidupnya, tetapi merubahnya bukan pada si individu saja, tetapi juga merubah lingkungan social dan kondisi kehidupan yang mempengaruhi pola perilakunya.Harus disadari bahwa tidak ada aturan ketentuan baku tentang gaya hidup yang “sama dan cocok” yang berlaku untuk semua orang. Budaya, pendapatan, struktur keluarga, umur, kemampuan fisik, lingkungan rumah dan lingkungan tempat kerja, menciptakan berbagai “gaya” dan kondisi kehidupan lebih menarik, dapat diterapkan dan diterima.Senjata sama : maksud bedaPara marketer melihat gaya hidup dengan analisis AIO, dengan maksud agar tepat dalam penetrasi barang dan jasa yang ditawarkannyaPara promosi kesehatan melihat gaya hidup dengan analisis AIO, agar lebih mengenal khalayak dan dapat mengembangkan promosi gaya hidup sehat yang berorientasi khalayak atau klien. Bedanya dengan para marketer ialah, para promotor membandingkan gaya hidup khalayak dengan standar standar kesehatan, merubahnya bila tidak sesuai.Lalu, apa maksud kedua penampakan gaya hidup dari sisi pemasaran dan promosi diuraikan dalam tulisan ini? Cuma satu : saling memperkaya.Kita sepakat, dalam hal gaya hidup, penyebab dan penampakkan ( hal hal yang dapat diidentifikasi) pada setiap orang dan kelompok, pasti berbeda. Aktivitas (A) interast (I) dan Opini (O) masing masing orang dan kelompok saling berbeda, jadi intervensi yang dilakukan pun harus berbeda. Dan Vientiane berdeklarasiAntara lain ditanda tangani oleh Dr Achmad Sujudi, Menteri Kesehatan Indonesia, di Republik Laos 15 Maret 2002, di ibu kota Vientiane, lahirlah Deklarasi Vientiane tentang Gaya Hidup Sehat Asean – ditanda tangani oleh sepuluh menteri kesehatan negara negara ASEAN. Deklarasi ini mengartikan gaya hidup sebagai praktek perilaku dan prakek social yang mendukung kesehatan dan merupakan cerminan dari nilai nilai dan jatidiri dari kelompok dan masyarakat dimana penduduk hidup dan menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk memenuhi kehidupan ekonomi , social dan lingkungan fisik. Sedemikian pentingnya gaya hidup sehat itu sehingga para menteri kesehatan menetapkan visi “ pada tahun 2000 semua penduduk ASEAN akan menuju gaya hidup sehat, sesuai dengan nilai hidup, kepercayaan dan budaya ASEAN, dalam lingkungan yang mendukung.Selanjutnya dirumuskan berbagai area prioriotas, tergantung kondisi kesehatan masing masing negara.
Diposting oleh chimin di 20:16 1 komentar
Sehat Sampai Akhir Hayat
UPAYA pemeliharaan kesehatan tak akan berhasil jika tak ada perubahan sikap mental dan perilaku. Dari sekian banyak dan beragam penyakit terkini, sumber akarnya tiada lain adalah gaya hidup (Way of Life) yang keliru. Bila kita menjalankan gaya hidup yang sehat dan benar, penyakit akan jauh dari kita.
Gaya hidup sehat dan benar hanya dengan 4 (empat) kalimat; makan yang pantas, berolah raga dengan takaran yang pas, stop rokok dan kurangi alkohol, serta mental batin tenang atau seimbang. Dengan 4 kalimat tersebut menurut sebuah penelitian, penyakit tekanan darah tinggi dapat berkurang 55%; stroke & jantung koroner dapat berkurang 75%; diabetes dapat berkurang 50%; tumor dapat berkurang 35%, usia rata-rata dapat diperpanjang 10 tahun ke atas dari rata-rata usia harapan hidup manusia Indonesia. Semua ini diraih tanpa mengeluarkan uang sesen pun! jadi gaya hidup sehat sangat mudah tapi efeknya luar biasa.
Berolah raga secara teratur sesuai kemampuan akan memperlancar peredaran darah, dan mempercepat penyebaran impuls urat saraf ke bagian tubuh atau sebaliknya, sehingga tubuh senantiasa bugar. Pada gilirannya ini dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Semua orang tahu olah raga itu baik untuk kesehatan, tapi tidak semua orang tahu bagaimana berolah raga dengan aman dan efektif.
"Berdasarkan filosofinya, sasaran olah raga sehat secara umum adalah memelihara, kemudian meningkatkan dari yang sudah ada, dan meningkatkan lebih baik lagi dalam kemampuannya mengambil oksigen lebih banyak, seiring dengan gerak yang dilakukannya," kata Prof. HYS Santosa Giriwijoyo, Drs. dr. guru besar dalam ilmu Faal (fisiologi) FPOK UPI.
Bila tujuannya olah raga kesehatan, lanjutnya, maka syaratnya dilakukan seringan mungkin dan dalam kurun waktu yang lebih lama dan teratur atau dilakukan secara terus menerus sepanjang hidup. Olah raga yang baik, dilakukan hanya dengan melakukan gerak setingkat di atas aktivitas keseharian kita. Jadi bagi orang yang biasa duduk, berjalan kaki merupakan olah raga yang baik baginya. Sementara yang biasa jalan, olah raga yang baik dengan berjalan cepat atau lari.
Banyak orang berpendapat, tanpa olah raga pun sebenarnya kita sudah menggerakan badan, mirip olah raga. Misalnya dengan melakukan pekerjaan fisik sehari-hari seperti menyapu lantai, membersihkan rumah, mencuci, dan menjemur pakaian. Tetapi apakah "olah raga" semacam ini dapat kita lakukan secara teratur dan berkesinambungan? Itu masalah tersendiri!
**
"ORANG dikatakan sehat dan kualitas hidupnya baik bila semua fungsi tubuh normal, dan semua fungsi gerak baik serta wajar dengan memelihara semua sendi. Pada dasarnya gerak adalah salah satu ciri hidup. Meningkatkan kemampuan gerak berarti meningkatkan kualitas hidup. Kita juga akan mendapati gerak dalam keseharian sebagai olah raga kesehatan dan prestasi, serta gerak sebagai pekerjaan," kata Santosa.
Menurut Prof. Dr. dr. A. Purba, M.Sc, AIF, dosen Fakultas Kedokteran Unpad, pada usia manula (40 tahun keatas -red), sebaiknya dibiasakan untuk olah raga aerob (tarik nafas). Karena olah raga yang baik untuk jantung adalah aerobik. Dengan melakukan aeorobik lebih banyak menarik nafas dan membutuhkan banyak oksigen. Berbeda dengan olah raga an-aerob yang menahan nafas.
Bahkan menurut Purba, olah raga menahan nafas sangat tidak dianjurkan untuk penderita kelainan jantung, stroke, darah tinggi, diabet, karena pada saat tidak nafas jantung akan kekurangan oksigen dan akan tersentak kaget. Penderita mendadak bisa mengalami serangan jantung. "Bila sehat-sehat saja sih tidak masalah, hanya saya tekankan untuk para pasien penderita penyakit degeneratif ini agar tidak memulai olah raga dengan an-aerob atau tahan nafas. Untuk itu, olah raga yang baik di usia 40 adalah olah raga kesehatan aerobik dan tarik nafas, bukan tahan nafas, imbuhnya," . Selain itu, menurut Purba, di usia 40 tahun olah raga tahan nafas tidak dianjurkan, karena di usia tersebut selain kemampuan fisik yang menurun, juga diikuti dengan naiknya kadar kolesterol dalam darah yang lebih rentan terhadap serangan jantung atau stroke.
Bagaimana bila olah raga tahan nafas ini sudah dilakukan sejak usia sebelum 40 dan masih berlanjut hingga usia lebih dari itu? Menurut Purba, pada dasarnya olah raga apapun tak masalah bila dilakukan oleh orang yang sehat, dalam arti tidak memiliki catatan kesehatan yang membahayakan, tinggal dikembalikan pada tujuannya untuk kesehatan, rekreasi, prestasi atau apa. Bila olah raga tahan nafas dilakukan pun karena sudah terbiasa sejak usia sebelum 40, mungkin tak ada masalah. Artinya dia sudah terlatih dan mungkin memiliki kemampuan kesehatan yang lebih baik. Hanya yang dikhawatirkan banyak yang memasuki usia pensiun namun tiba-tiba ikut olah raga langsung an-aerob, tegas Puba.
Menurut Purba, sebelum memasuki olah raga yang berat an-aerob (tahan napas), sebaiknya dimulai dengan latihan olah raga aerob. Yang termasuk dalam kategori olah raga aerob adalah jalan, jogging, naik sepeda, dan beberapa olah raga ringan lainnya yang tidak kompetitif.
Sebagai panduan, sebaiknya bila olah raga kesehatan ini dilakukan oleh mereka yang berisiko gangguan kesehatan. Melakukan pemeriksaan terlebih dahulu ke dokter ahli tentang kondisi fisik yang sebenarnya. Bila olah raga yang dilakukan tujuannya rekreasi, semisal tenis, maka sebaiknya jangan ada perlombaan layaknya olah raga prestasi.
Olah raga dilakukan 30-60 menit. Karena dengan waktu tersebut cukup untuk membakar kolesterol. Olah raga tidak dilakukan pada saat cape atau keletihan. Sebaiknya istirahat dulu untuk 2-3 jam sebelum olah raga dimulai. Bila dilakukan malam hari, olah raga sebaiknya berhenti 3 jam sebelum waktu kebiasaan kita tidur. Bila terbiasa tidur jam 10, maka jam 7 harus sudah istirahat. Hal ini dilakukan untuk mencegah sulit tidur. Jangan langsung duduk setelah selesai olah raga, sebaiknya jalan-jalan 10-15 menit. Karena ketika selesai olah raga, otot kaki yang memompa darah ke otak akan otomatis mengurangi daya dorongnya bila kaki langsung diam. Hal ini yang berbahaya bagi jantung.
Sebaiknya bila melakukan olah raga dalam pengawasan dokter.Pada klub-klub olah raga juga disarankan ada dokter ahli yang mendampingi saat latihan berlangsung.
Diposting oleh chimin di 20:16 2 komentar
Rumah Sehat, Fenomena Gaya Hidup
SEHAT itu mahal harganya. Apalagi di zaman krisis ekonomi seperti sekarang, apa pun akan diupayakan orang agar tetap sehat. Gaya hidup sehat pun kini menjadi tren, terutama di kota-kota besar. Namun, apakah sehat itu selalu berkonotasi mahal, ternyata tidak. Hidup sehat itu dapat di mulai dari rumah yang sehat.
KIAN meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap berbagai masalah krisis lingkungan yang terjadi di sekitarnya telah memaksa orang mulai hidup hemat dan sehat.
Hemat Air. Di saat musim kemarau seperti sekarang, gejala krisis air bersih memaksa penghuni rumah mulai bertindak menghemat pemakaian air bersih yang diambil dari pompa air listrik. Penghematan dapat berupa kegiatan mencuci mobil berkurang menjadi sekali seminggu di hari Minggu, serta mencuci pakaian maksimal dua kali seminggu di hari Rabu dan Minggu.
Selain itu, air bekas cucian beras, sayuran atau buah yang mengandung banyak nutrisi jangan dibuang, tetapi dapat digunakan untuk menyirami tanaman. Dengan menghemat air bersih, anggota keluarga dapat tercukupi kebutuhan air bersih sepanjang musim kemarau. Namun, jangan lupa untuk tetap memasak air bersih sebelum diminum agar tubuh tetap sehat.
Ribuan ton sampah setiap hari diproduksi, maka ada baiknya seluruh anggota keluarga diajak membuang sampah secara selektif. Sampah dipilah menjadi sampah organik yang membusuk, seperti makanan, sayuran, serta buah-buahan, dan sampah anorganik yang tidak membusuk, seperti botol, kertas, kardus, ember, dan kaleng. Siapkan kantong plastik bekas belanjaan berukuran sedang besar di atas tempat sampah yang diperuntukkan bagi sampah organik. Jika sudah penuh, kantong diikat agar bau busuk sampah tidak menguap ke dalam rumah dan buang sesegera mungkin.
Pada dasarnya, sampah anorganik seperti botol, toples, kertas, kardus, kayu, ember, dan kaleng masih dapat dimanfaatkan secara kreatif. Botol untuk tempat sirup atau minyak. Toples atau kaleng untuk tempat bumbu masakan, garam, gula, kopi, teh, atau kerupuk. Kertas masih dapat dipakai untuk membungkus atau ditulis lembar baliknya yang masih kosong. Kardus masih bisa dipakai untuk membungkus kado atau barang paket. Ember, kaleng cat/susu, dan drum dapat dipakai untuk pot-pot tanaman yang artistik.
Koran, tabloid, majalah, atau buku bacaan bekas dapat disumbangkan ke perpustakaan setempat atau dikumpulkan bersama tetangga untuk dikirim ke kampung halaman. Jangan biarkan rumah anda penuh dengan koleksi barang rongsokan. Itu sama saja membiarkan ruang rumah menjadi penuh sesak dan menjadi sarang nyamuk. Jika memang sudah tidak ingin menggunakan sampah anorganik tersebut, bungkuslah dengan rapi dan berikan kepada pemulung yang lewat setiap hari di depan rumah. Bagi mereka, sampah adalah berkah.
Gaya hidup sehat yang cenderung kembali ke alam tradisional memberikan peluang besar kepada anggota keluarga untuk berkebun secara optimal di rumah. Kehadiran taman yang dipenuhi tanaman buah-buahan, sayuran, dan tanaman obat akan mendukung gaya hidup sehat si penghuni. Dengan berkebun, Anda dapat bersantai sebagai obat mengurangi stres.
Menanam pohon pisang buah, misalnya, selain buahnya dimakan langsung dapat pula direbus atau dikolak. Daun pisangnya dapat dipakai memasak pepes ikan, tahu, daging, atau buat kue lemet singkong yang bebas kolesterol sebagai makanan kesukaan keluarga. Ada baiknya pula mengajak para tetangga sebelah untuk menanam berbagai jenis pohon pisang buah yang bervariasi di setiap halaman depan rumah sehingga pada saat panen dapat saling barter pisang dengan tetangga sekaligus mempererat tali silaturahmi.
Selain pisang, pohon pepaya juga banyak manfaatnya. Bagi keluarga muda, buah pepaya muda yang direbus dan dimakan dapat memperbanyak air susu ibu. Buah matangnya tentu bervitamin untuk dimakan sekeluarga. Daun pepaya dapat di sayur untuk lalapan yang dapat menurunkan kolesterol. Selain itu, pagar hidup dari tanaman katuk dapat dimasak untuk dijadikan sayur bening yang juga membantu memperbanyak air susu ibu.
Daun sirih yang ditanam di tiang pergola, pagar atau carport dapat langsung dikunyah atau meminum air rebusan daun sirih, dijamin gigi sehat kuat, napas segar, dan tenggorokan lega, persis kaya iklan pasta gigi. Sementara daun kembang sepatu dan lidah buaya dapat digunakan untuk penyubur rambut.
Rumah sehat
Selain gaya hidup yang sehat, rumah yang sehat juga sangat penting. Keduanya saling berkaitan erat. Berikut ini beberapa pertimbangan untuk menciptakan rumah yang sehat.
Keterbatasan lahan bangunan dan ketersediaan ruang yang sempit dapat disiasati dengan rumah tumbuh kembang. Pada bagian atap, eternit dapat ditiadakan. Atap yang terdiri atas genteng, lapisan aluminium, dan tripleks terlihat tanpa kolong yang mensyaratkan penyelesaian rangka atap yang rapi, termasuk pemasangan jaringan elektrikal. Kelebihan yang diperoleh adalah atap bebas tikus, ruang terasa luas dan melegakan aliran udara.
Atap di atas kamar mandi, kamar tidur, dan dapur ada baiknya dipasangi satu-dua genteng kaca untuk membiarkan sinar matahari langsung dari atas masuk ke dalam ruangan. Bukaan-bukaan dari ventilasi, jendela dan pintu yang lebar dan bersilangan akan meloloskan sinar matahari dari samping masuk ke berbagai ruangan. Pemakaian lampu di siang hari pun dapat ditiadakan. Selain itu, sinar matahari bermanfaat pula menghilangkan kepengapan ruang dan membunuh kuman bakteri yang berterbangan di dalam ruangan, serta mencegah orang malas bangun pagi. Rumah pun hemat listrik, tetapi juga sehat.
Masalah debu patut dicermati, apalagi bila ada anggota keluarga yang alergi debu. Bagi rumah yang berada di tepi jalan raya biasanya banyak debu di rumahnya. Bersihkan debu-debu tersebut dengan lap basah dan pel lantai di pagi hari, dan juga di sore hari jika memiliki balita. Lantai sebaiknya tidak berkarpet karena debu mudah menempel di karpet. Ventilasi lubang angin tetap dipasangi kasa untuk menyaring debu dan mencegah nyamuk masuk. Kasa juga harus rutin dicuci seminggu sekali.
Untuk menyiasati keterbatasan lahan dan ruang, maka optimalisasi ruang dapat berupa penggabungan fungsi ruang. Garasi, teras depan, dan ruang tamu asing digabung dalam taman depan dengan kolam yang asri. Ruang tamu keluarga dan ruang makan menjadi satu, serta dapur dan teras belakang. Jika rumah bertingkat, tingkat atas dapat digunakan untuk ruang keluarga, ruang belajar, dan kerja, serta ruang tidur tamu sanak keluarga jika sedang berkunjung. Di atas dapur dapat dibangun kamar pembantu, ruang cuci dan jemur pakaian, dilengkapi pot-pot tanaman sayuran seperti cabai, pandan, dan sereh.
Ruang yang sempit dapat diberi kesan luas, selain bentuk jendela yang lebar, pemilihan cat dinding dan tirai jendela harus cenderung warna cerah, seperti putih atau hijau muda. Warna cerah menstimulasi pemakai ruang menjadi riang dan bergairah dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari.
Perabot
Pemilihan perabot ruang dalam harus mudah dibersihkan, dipindahkan, dan proporsional sesuai tempat yang tersedia. Jika ruangannya sempit, pilihlah perabotan yang ramping berkesan ringan tapi kuat. Letakkan pot-pot tanaman berukuran kecil sedang untuk menciptakan kesan alami dalam ruangan rumah.
Kehadiran unsur air dalam bentuk kolam dari gentong atau tempayan yang berisikan ikan mas atau lele dan tanaman melati air, teratai, eceng gondok, atau papyrus harus dikuras secara rutin, minimal dua minggu sekali. Untuk mengurangi gangguan nyamuk, di sekitar kolam dan di teras depan dapat diletakkan pot-pot tanaman sereh karena tanaman ini ampuh mengusir nyamuk.
Kesegaran dan kesehatan udara lingkungan sekitar rumah sangat ditentukan oleh kerindangan pepohonan yang ada di depan rumah. Penanaman pohon buah-buahan di jalur hijau jalan dan taman depan rumah akan memperoleh keuntungan banyak, seperti keteduhan ruang koridor untuk berjalan dan bermain anak-anak, mengalirkan udara sejuk ke dalam rumah, serta panen buah- buahan.
Untuk menciptakan keserasian koridor hijau jalan, pilihlah pohon jenis buah-buahan yang berbeda di setiap jalan, selain sebagai penanda jalan, warga dapat panen buah-buah secara bergantian musim. Pohon mangga, jambu, atau rambutan merupakan pohon buah-buahan yang memiliki banyak jenis.
Masih banyak lagi gaya hidup sehat. Namun, yang harus diingat adalah orang tua harus mengambil peran utama dalam meneladani gaya hidup sehat seperti tersebut di atas karena anak merupakan pecontoh terbaik. Wujudkanlah sebuah rumah yang sehat secara bersama demi kesehatan seluruh anggota keluarga. Selamat mencoba.
Diposting oleh chimin di 20:16 1 komentar
KEBIJAKAN GIZI
Menu ini hadir untuk memberikan informasi kepada anda tentang Strategi dan Kebijakan Pemerintah dalam pengembangan program penanggulangan masalah gizi secara nasional, baik yang sudah berupa buku panduan program maupun yang masih berupa dokumen sementara.
Informasi yang dapat tersaji sampai saat ini adalah:.
Kepmenkes RI tentang Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan bagi Bangsa Indonesia (download)
Rencana Aksi Pencegahan & Penanggulangan Gizi Buruk
INFO ACEH
Kadarzi revisi Desember 2004 (format ppt, size: +/- 2.21 MB Klik Disini (atau klik kanan mouse, pilih "save target as").
Program Perbaikan Gizi Makro (download)
Stranas PP ASI (download)
Matriks Stranas (download)
Rencana Aksi Pangan dan Gizi Nasional 2001-2005 (download)
Rencana Strategik Direktorat Gizi Masyarakat
Program Pembangunan Nasional Bidang Gizi (download)
Indonesia Sehat 2010
Inmendagri No. 23 (download)
Keputusan Menteri Kesehatan Tentang TKHI (download)
SK Dirjen tentang Vitamin A (download)
SK Menkes No. 237 tentang Pemasaran Pengganti ASI (download)
Health Development Plan Towards Healthy Indonesia (download)
SK Memperindag No. 153 tentang Penerapan Secara Wajib SNI Tepung Terigu Sebagai Bahan Makanan (download)
Undang-Undang No. 7 tahun 1996 tentang Pangan
Diposting oleh chimin di 20:07 2 komentar
Desember 2007 Halaman Muka
Berlangganan: Posting (Atom)
Arsip Blog
• ▼ 2008 (6)
o ▼ Januari (6)
 Apakah Promosi Kesehatan Itu ?Health promotion is ...
 Tips Hidup Sehat Hindari Menu Makanan yang Buruk ...
 GAYA HIDUP DAN GAYA HIDUP SEHAT, TANTANGAN PROMOSI...
 Sehat Sampai Akhir Hayat UPAYA pemeliharaan keseha...
 Rumah Sehat, Fenomena Gaya Hidup SEHAT itu mahal h...
 KEBIJAKAN GIZI Menu ini hadir untuk memberikan inf...
• ► 2007 (3)
o ► Desember (1)
 Obesitas & Gaya Hidup Sehat Bagi sebagian orang, ...
o ► November (2)
 FOOD COMBINING (Kombinasi Makanan Serasi)

Mengenai Saya

amin
vollyball
Melihat profil lengkap saya

AA atau ARA (Arachidonic Acid)

AA atau ARA (Arachidonic Acid)

Sumber : http://balitasehatcerdas.blogspot.com/2008/01/tiga-hal-yg-mempengaruhi-kecerdasan.html


AA (Asam Arachidonic) merupakan asam lemak tidak jenuh ganda rantai panjang omega-6. Seperti halnya DHA, secara alami AA ada dalam ASI.

Kandungan lemak omega-6 dalam otak bisa mencapai 48% dan penting untuk pertumbuhan dan pertumbuhan otak yang optimal.

Bersama dengan DHA , AA mampu memperbaiki pengembangan mental, meningkatkan kemampuan visualisasi , menurunkan tekanan darah pd usia 6 tahun , mengurangi resiko cardiovascular disease selama hidup.
AA dan DHA juga berpengaruh terhadap perkembangan penglihatan bayi serta mampu membantu meningkatkan ketajaman fungsi penglihatan bayi.

________________________________________
DHA (Docosahexaenoic Acid)
DHA atau Asam Dokosaheksaenoat adalah asam lemak tidak jenuh ganda rantai panjang omega-3.
DHA merupakan lemak utama pembentuk otak, retina mata dan jantung.
DHA berfungsi agar sel otak, mata, jantung dan sisten saraf berkembang dan berfungsi dengan normal.

Jumlah lemak omega-3 dalam otak bisa mencapai 97% dan di dalam retina/mata , lemak omega-3 bisa mencapai 93%.

DHA sangat diperlukan terutama pada periode dimana otak mengalami perkembangan yang sangat cepat. Peride tersebut adalah selama masa kehamilan serta 18 bulan setelah kelahiran.
DHA membantu bayi untuk mengkoordinasikan antara mata dan tangan, mengembangkan kemampuan motorik serta meningkatkan focus / perhatian.
DHA yang tinggi membantu bayi untuk tidur dengan lebih nyenyak.

DHA yang dibutuhkan oleh janin dipenuhi dari makanan yang disalurkan melalui plasenta ibu. Sedangkan DHA yang diperlukan oleh balita dipenuhi dari air susu ibu.

Antara kelahiran sampai dengan umur 5 tahun, otak manusia tumbuh 3.5 kali.
Jumlah DHA yang direkomendasikan oleh WHO/FAO adalah 20 mg DHA per kg berat bayi.
Bila bayi rutin mendapat ASI maka DHA yang dikonsumsi sudah cukup untuk memenuhi standart WHO/FAO yaitu sekitar 21 mg DHA per kg berat bayi.

Sabtu, 16 Oktober 2010

dokumentasi keperawatan



DOKUMENTASI KEPERAWATAN
DISUSUN OLEH:
KELOMPOK i

v CERI ANDRIANA
v BAJIN
v DARMANTO
v DONNA TASTAP TIYANDI
v YOEL UNGKING
v  YUNUS HERMANTO





AKADEMI KEPERAWATAN HARUM
JAKARTA
2009/2010






Kata pengantar

Puji syukur kami panjatkan kepada tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunianya kami dapat menyelesaikan makalah dokementasi keperawatan ”source oriented record” (catatan berorientasi pada sumber).

Kami selaku penulis menyadari kemungkinan terjadinya kesalahan atau kekurangan dalam penulisan makalah ini, walaupun demikian kami selaku penulis berusaha sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan kami selaku penulis untuk menyelesaikan makalah ini.

Tak lupa kami mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, kepada :

1.      Ibu Rosmawati Sitorus,S.Pd,MA.selaku direktur akademi keperawatan harum
2.      Ns.Yeni iswari.S,Kep,selaku dosen mata ajar dokumentasi keperawatan
3.      Kedua orang tua kami yang telah membantu dalam pengerjaan makalah ini baik dari segi material maupun moral.
4.      Teman-teman yang telah membantu dalam mengerjakan makalah ini baik langsung maupun tidak langsung.


Akhir kata kami selaku penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa/ mahasiswi lainnya yang pada umumnya dan khususnya bagi kami selaku penulis makalah ini. Suatu harapan yang tinggi agar makalah ini dapat memberikan sumbangan pikiran berupa kritik dan saran.






DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB 1             :  PENDAHULUAN
A.     LatarBelakang………………………………………………………………….…….i
B.     Tujuan Penulisan………………………………….…………………………………...i
C.     Ruang Lingkup…………………………………….………………………..………….ii
D.     Metode Penulisan……………………………………………………………………….ii
E.      Sistematika Penulisan…………………………………......…………………………….ii
                                                
BAB 11           : TINJAUAN  TEORITIS
A.    SOR (Source Oriented Record)
B.     Format SOR
C.     Keuntungan dan kerugian

BAB 111         :  PENUTUP
A.     Kesimpulan……………………………….…………………………………………….iii
B.     Saran…………………………………………………………………………………….iii


DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………iii












BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar belakang
Teknik dokumentasi keperawatan merupakan cara menggunakan dokumentasi keperawatan dalam penerapan proses keperawatan. Dimana kita dalam melakukan proses keperawatan tak terlepas dari pendokumentasian,untuk bukti tertulis apabila kita disidangkan kepengadilan karena salah pendokumentasian(catatan keperawatan
B.     Tujuan penulisan

1.      Tujuan umum
Untuk memberikan wawasan kepada mahasiswa/mahasiswi tentang cara pendokumentasian keperawatan yang benar.

2.      Tujuan khusus
a.       Agar mahasiswa/ mahasiswi dapat mengerti dan memahami tentang pendokumentasian klien 
b.      Agar mahasiswa \/mahasiswi mengetahui pentingnya pendolumentasian didalam pembuatan asuhan keperawatan
c.       Untuk memenuhi tugas makalah dokumentasi keperawatan “ SOR”  dari Ns. Yeni iswari,S.kep.
C.    Ruang lingkup
Adapun ruang lingkup dalam makalah dokumentasi keperawatan ini adalah mencakup pembawasan “Source oriented record”( catatan berorientasi pada sumber)
D.    Metode penulisan
Metode penulisan dalam pembuatan makalah ini menggunakan studi kepustakaan dan sumber dari internet yang berhubungan dengan judul “Source oriented record”( catatan berorientasi pada sumber) yang dijadikan panduan dalam pembuatan/penyusunan malakah ini.
E.     Sistematika penulisan
Dalam penlisan makalah ini kelompok kami hanya membahas “Source oriented record”( catatan berorientasi pada sumber)









BAB II
TINJAUAN TEORITIS
Source oriented record”( catatan berorientasi pada sumber )

SOR (Source Oriented Record)

            Adalah tehnik dokumentasi yang dibuat oleh setiap anggota tim kesehatan.
Dalam melksanakan tindakan mereka tidak tergantung dengan tim lainnya. Catatan ini cocok untuk pasien rawat inap.
Model ini menempatkan catatan atas dasar disiplin orang atau sumber yang mengelola pencatatan. Bagian penerimaan klien mempunyai lembar isian tersendiri, dokter menggunakan lembar untuk mencatat instruksi, perawat menggunakan catatan keperawatan, begitu pula disiplin lain mempunyai catatan masing-masing.
Catatan berorientasi pada sumber terdiri dari lima komponen :
1.      Lembar penerimaan berisi biodata
2.      Lembar order dokter
3.      Lembar riwayat medic/ penyakit
4.      Catatan perawat
5.      Catatan dan laporan khusus
























Format SOR

Sumber :                                                                                  tanda tangan & tanggal
P          :  perawat
D         :  dokter
F          :  fisioterapis
G         :  ahli gizi



tanggal
waktu
sumber
Catatan perkembangan
Tanggal/ bulan/ tahun
Waktu tindakan
P
·         Meliputi :1) pngkajian,2) identifikasi masalah,3) perlunya rencana tindakkan, 4) rencana segera ,5) intervensi 6)penyelesaian masalah 7) evaluasi efektifitas tindakkan ,8)hasil
·         Tanda tangan perawat


D
·         Meliputi observasi keadaan pasien, evaluasi kemajuan,identivikasi masalah baru dan penyelesaian lainnya, rencana tindakan dan pengobatan terbaru
·         Tanda tangan dokter


F
·         Meliputi hal-hal yang perlu dilakukan fisioterapi, masalah pasien,rencana, intervensi dan hasil
·         Tanda tangan fisioterapis












Source-Oriented Record (SOR)
Istilah : Catatan Tradisional
Setiap orang/bagian/sumber mempunyai catatan sendiri atau
        terpisah
Terdiri dari lima komponen :
1. Admission sheet : biodata
2. Lembar intruksi dokter
3. Lembar riwayat medik
4. Catatan perawat
5. Catatan dan laporan khusus
6. Kartu grafik/pencatatan

Keuntungan dan kerugian SOR

Keuntungan

1. Menyajikan data secara berurutan
2. Memudahkan perawat untuk secara bebas mencatat berbagai
    informasi
3. Format dapat menyederhanankan proses pencatatn masalah,
    kejadian, perubahan, intervensi dan respon klien atau hasil

Kerugian SOR :
.
1.      Potensial terjadinya pengumpulan data yang terfragmentasi,
                 tidak berdasarkan urutan waktu

2.      Kadang mengalami kesulitan untuk mencari data sebelumnya
                 bila tidak mengulang dari awal

3.       Superficial pencatatan tanpa data yang jelas

4.      Memerlukan pengkajian data dari beberapa sumber untuk
                 menentukan masalah dan tindakan pada klien

5.      Waktu pemberian asuhan memerlukan waktu yang banyak.

6.      Data yang berurutan mungkin menyulitkan dalam
                 interpretasi/analisa

7.      Perkembangan klien sulit dimonitor
.                Menghabiskan waktu 
          
           8.   Catatan tdk teratur, berpindah dari satu mas ke mas lain
                tanpa penghubung yg jelas.

BAB III

PENUTUP


A.    KESIMPULAN

Apa bila perawat melakukan suatu tindakan keperwatan tidak terlepas dari pendokumentasian, karena bila tidak ada pendokumentasian perawat tidak bisa dikatakan perawat professional. Pendokumentasian adalah standar keperawatan


B.        SARAN

Kami selaku penulis menyadari bahwa makalah ini tidak terlepas dari kekurangan penulisan kata maupun isi makalahnya, dan untuk itu kami selaku penulis meminta agar pembaca bisa member kritik dan saran yang membangun agar makalah yang buat bisa disempurnakan lagi





























DAFTAR PUSTAKA


·         Nursalam,Proses dan Dokumentasi keperawatan: Konsep dan Praktek/Nursalam-Edisi Pertama-Jakarta:Salemba Medika,2001